“LILYANA NATSIR DEMI BULUTANGKIS HANYA MENGECAP SEKOLAH DASAR” Di usia 12 dia meninggalkan rumah sebagai pemula. Di usia 21 dia kembali ke rumah sebagai jutawan dan pahlawan. Di usia 12 dia memutuskan meninggalkan sekolah. Di usia 21 dia salah satu pemain bulutangkis terbaik Sembilan tahun Lilyana “menukarkan” hidupnya dengan bulu tangkis. Sembilan tahun bulu tangkis menjadikan dia bintang yang naik-turun podium kehormatan. “Orang tua saya menghargai keputusan saya meninggalkan sekolah. Syaratnya harus serius,” ujarnya kepada Tempo. Gadis asal Bersama pasangannya, nova widianto, lilyana menjuarai “Terharu dan bangga bias ngasih emas buat Negara,” ujarnya kepada tempo. Seusai dia berlaga, beno & olly meneleponnya, menyatakan betapa bangga keduanya kepada putri kecil mereka. Saat ke Amerika, dia satu-satunya atlet putri dalam kontingen bulutangkis Lahir di Manado, Sulawesi Utara, 9 September 1985, lilyana datang dari keluarga pecinta bulutangkis. Di waktu senggang, dia bersama ibu dan pembantunya kerap mengisi waktu dengan bermain badminton di depan rumah. Melihat bakat dalam diri si putri bungsu, orang tuanya mendaftarkan dia ke klub PB Pisok di Manado. Pada 1997, dia hijrah ke klub PB Tangkas di Jakarta. Usianya 12 tahun ketika itu. Bagi seorang gadis kecil, sendirian dan jauh dari keluarga ibarat prahara. Tiap malam, lilyana kenyang menangis. Kerap dia tergoda untuk menyerah dan kembali ke Kala itu, lilyana menjadi atlet paling kecil di klub. Genap setahun merantau, butet pulang ke Kerja keras gadis kecil itu tidak sia-sia. Dia dipanggil masuk Pemusatan Latihan ( Pelatnas) pada 2002. Tujuh jam tiap hari butet berlatih di hall bulutangkis Cipayung. Dan mencatatkan prestasi demi prestasi. Olahraga bulutangkis mengalirkan penghasilan jumbo untuk butet. Rekening pribadinya berisi hingga miliaran rupiah. Kontrak per 3 bulannya di pelatnas mencapai Rp 100 juta. Kakanya, kalista natsir, seorang dokter, sempat “ iri”. Dan siapa yang tidak ? Di usia semuda itu, dengan modal pendidikan hanya sekolah dasar, butet mampu membeli mobil Nissan X-Trail. Dua pekan lalu, dia mendapat satu mobil Yaris sebagai bonus prestasi. Nona Manado ini berniat membeli sebuah rumah di Cibubur. “ Penghasilanku lebih dari cukup,” ujarnya. Semua ini harus dibayar mahal dengan latihan ketat setiap hari yang kerap membosankan. Butet memupus rasa bosan dengan nonton film, jalan-jalan ke mall, atau makan di luar bersama kawan-kawannya. Sesekali dia mengisi akhir pekannya dengan dugem atau bermain biliar. Ditemani secangkir kopi, lilyana betah berjam-jam menyodok bola biliar. Dia juga gemar bermain game di computer atau menonton televisi di kamarnya yang berukuran 4 X 4 meter persegi. Liburan panjang dan natal adalah saat yang amat dia nantikan. Butet pasti pulang kampung. Semua masakan “ Sudah terlalu banyak ketinggalan kalau mulai dari awal,” ujarnya. Dia menukarkan pendidikannya untuk bulutangkis. Boleh jadi tidak sia-sia. Bulutangkis membawa LILYANA NATSIR menjelajahi dunia jauh sebelum usia 21. 
LILYANA NATSIR
Diposting oleh
@Byun Rin Ah
Senin, 21 November 2011
Label: Hanya menegcap sekolah dasar

0 komentar:
Posting Komentar